Cerita AKU IKHLASH Part 5
Bagian 5
Saat hendak memasuki kamar aku melihat mas anton tersenyum senyum sambil melihat ponselnya. Ada rasa penasaran tapi aku tahan. Dengan segera ku menaiki ranjang dan mencoba tertidur.
Meski berat untuk tidur tetap ku paksakan untuk terlelap, hingga ku rasa kan ada yang membelai kepala ku.
Ada sedikit rasa hangat di sanubari. Aku tersenyum simpul saat memejamkan mata dan mulai terlelap dalam tidur.
****
Pukul 02:12 aku terbangun, dan berniat untuk melakukan sholat sunah.
Ku panjatkan semua masalah yang telah menghempit di hati. Semoga Tuhan menunjukkan jalan. Sambil terisak aku terus berdoa hingga bercucuran air mata.
"Ara bisa diem ga sih? Berisik! " Suara mas anton menggema di sudut ruangan. Ditengah tengah isak ku, ku coba untuk menahan suara.
Sungguh hal seperti inilah yang membuat hati tambah sakit, menangis dan menahan suara. Sesak.
****
Subuh menyapa setelah semalaman berdzikir hingga waktu subuh. Ku bangunkan mas anton untuk melaksanakan ibadah berjamaah.
"Mas bangun sudah subuh, yuk sholat berjamaah. Sudah lama kita tidak sholat berjamaah"
"Sudahlah sana ra, kamu saja yang sholat aku masih ngantuk! "
Aku menarik nafas dalam dalam. Dan mengambil wudhu kembali untuk melakukan sholat sendiri.
Seusai sholat, aku menghangatkan masakan yang kemarin tak termakan. Kemarin pun aku hanya makan sedikit karena nafsu makanku hilang begitu saja.
Pukul 6 pagi mas anton keluar dari kamar mandi, tak kuasa aku untuk melihat nya sesegera mungkin aku keluar kamar.
Entah lah, aku merasa jadi malu melihat nya yang setengah telanjang.
Lebih baik aku menunggu di meja makan saja.
"Araa, loh ini bukannya makanan tadi malam? "
"Iya mas, sayang kalo di buang jadi aku hangatkan aja"
Ucapku mencoba acuh.
"Oh ya mas, bisa ga nanti siang kamu anter aku belanja bulanan? Keperluan rumah sudah mulai habis"
"Aduh, maaf ra hari ini aku sangat sibuk kamu pergi sendiri saja ya, bisakan? "
Dengan berat aku menghembuskan nafas. Dan mengangguk pasrah.
****
Siang hari aku menunggu taksi online yang aku pesan. Aku pergi ke pusat pembelajaan. Hendak sedang memilah milih aku melihat sosok pria yang aku kenal.
'Ismail'
Pria paruh baya yang tak pernah aku lupakan.
Sungguh keluarga yang harmonis, papa sedang asik bersenda ria dengan keluarga nya. Ingin sekali menghampiri dan menyapanya, namun rasa enggan itu selalu ada di hati. Dan rasa takut merusak suasana bahagia mereka.
Setitik air mata jatuh. Ah betapa lemahnya diriku.
Tak ingin melukai hati lebih dalam gegas aku pergi dari tempat itu, dan berjalan melewati tempat makan yang ada di mall.
Dan lagi lagi aku tercengang melihat keluarga harmonis mama dengan pak wahyu dan anak mereka Reneta. Ia gadis cantik yang manja.
Melihat ia sedang disuapi mama hati ini semakin sakit. Padahal di usia ku dulu sama sepertinya malah terlantar kan oleh kedua orang tua ku sendiri dengan sengaja.
Lekas aku pergi dari tempat ku berdiri, dengan segera sebelum mereka menyadari keberadaan ku. Sambil menyeka air mata yang hendak keluar.
10tahun aku tinggal dipanti. Membiasakan hidup mandiri, dan membantu ibu panti.
Ahh rasanya malas jika terus mengingat semua itu, hal itu hanya membuat ku semakin sakit hati.
****
Mas anton tak pernah abai akan nafkah, dia memberi ku uang nafkah dengan layak.
Tapi siapa sangka, wajah rupawan dan tanggung jawab itu bisa menjamin kesetiaan.
Mereka terkadang sering lupa akan daratan, dan melupakan apa yang pernah diperjuangkan sebelum nya.
Hahh, lagi lagi aku terlalu meratapi nya.
Setelah selesai berbelanja, aku sedang menunggu pesanan taxi online ku, tanpa di sengaja dibawah panasnya matahari aku melihat kemesraan yang tak ku harap kan.
Mas anton begitu mesra merangkul pinggang langsing wanita itu, terlihat dari pancaran senyuman nya ia terlihat begitu bahagia.
Ku coba menelpon dirinya.
"Assalamu'alaikum, hallo mas? "
"Hmm. Ada apa? "
Dingin. Terlihat dari sana wajah nya begitu biasa saja, tak ada raut kebahagiaan ataupun apa.
"Kamu dimana? " Tanya ku sambil terus menatap ia dari kejauhan.
"Ya di kantor lah, kamu pikir aku dimana! "
Aku bertanya baik baik, mengapa ia menjawab dengan ketus?
"Ohh yaa udah maaf menganggu mu mas, assalamu'alaikum"
Tiittt...
Sekedar untuk menjawab salam ku pun apakah ia enggan?
Tadi pagi dia berkata sibuk akan pekerjaannya, tapi justru ia malah asik berpacaran dengan Ara yang lain.
***
1 bulan telah berlalu, aku hanya akan berbicara kepada mas anton jika ia bertanya. Selebihnya aku hanya diam.
Tapi aku tak pernah mengabaikan kewajiban ku sebagai istri untuk mengurus keperluan dan kebutuhan suami.
Seperti menyiapkan baju kerja, memasang kan ia dasi, memasak untuk nya dan lain sebagainya.
"A-ara.. "
Suara itu keluar ketika saat ku memasang kan ia dasi
"Hmmm" Jawab ku yang masih fokus memasangkan ia dasi
"A-aku nanti malam akan pulang telat"
Aku menarik nafas dalam dan menghembuskan perlahan.
"Iya"
Hening
Sungguh sangat canggung bagi suami istri yang berdekatan namun saling diam. Tak ada kehangatan di dalam nya.
Setelah selesai memasang kan dasi ia masih terpaku menatap ku, yang membuat ku malah risih.
"Aku tunggu kamu di meja makan" Ucapku menunduk dan langsung keluar kamar.
Di meja makan pun tetap sama, hanya suara denting sendok dan garpu yang saling beradu mengisi sarapan kami.
*****
Masih seperti hari hari sebelumnya, suasana sepi menyelimuti hari hari ku. Aku menatap keluar melalui jendela banyak kendaraan yang berlalu lalang dan suara celoteh anak kecil memekakkan telinga.
Mereka terdengar bahagia. Memang mengasikkan jika hari weekend dihabiskan bersama keluarga.
Tapi justru mas anton malah pergi untuk bekerja.
Ingin rasanya kembali ke panti. Disana aku cukup merasa senang, semakin banyak anak panti yang diajak mayoritas nya anak anak jalanan. Sehingga membuat suasana panti ramai. Tapi hal itu justru membuat ku senang dan seakan punya keluarga baru.

Komentar
Posting Komentar