Cerita AKU IKHLASH Part 2

 

Aku Ikhlash
Karya : Rosma Mista

Bagian 2


Pukul 02:15 aku terbangun dari tidur ku karena mendengar suara yang tertawa. Aku pikir ada maling namun setelah di dengar kembali itu suara mas anton. Apakah ia belum tertidur? Rumah kami tak besar. Hanya terdiri 2 kamar tidur, ruangan tengah, ruangan tamu dapur dan 2kamar mandi. Dan 1kamar mandi ada didalam kamar ku dan 1 lagi berada di dekat dapur.

Aku mendengarkan kembali suara tawa itu, begitu renyah terdengar. Suara yang selama 2bulan ini tak ku dengar.

Pikiran ku mulai bercambuk dengan siapa ia bicara hingga dini hari?

Tanpa ingin mendengar lebih lama aku segera menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu.

Diatas sajadah aku mengadu kepada pemilik kehidupan. Dan aku menangis tanpa suara, tenggorokan ini begitu tercekat menahan suara tangis.

Pada seperti ini malam malam telah ku lalui beberapa bulan lalu tepatnya 4bulan yang lalu. Setelah aku dikabarkan menderita kanker otak stadium akhir. Semua ku serahkan kepada Rabb ku. Mungkin ini memang jalan takdirku.

Derita penyakit ku ini, aku sembunyikan dari suami ku. Tak kuasa rasanya untuk mengatakan padanya. Biarlah ku lalui semua ini sendirian. Tanpa merepotkan siapapun.
****
Suara adzan berkumandang menandakan subuh telah tiba. Aku bangkit bangun untuk mengambil air wudhu lagi sekalian mandi membersihkan diri.
Ku laksanakan 2rokaat dengan kusyuk.

Setelah melakukan kewajiban, aku berkutat kembali dengan peralatan dapur menyiapkan sarapan dan membersihkan rumah.

Hendak akan membangunkan mas anton yang memang kebetulan pintu kamar sebelah tidak dikunci.

Aku melihat ia dalam memperhatikan setiap lekuk wajahnya, wajah yang aku rindukan dan perlakuan yang hangat.

'Ting... '
Satu pesan masuk ke whatsapp suami ku. Dari layar terlihat nama kontak 'Araa'  ditambahkan dengan emoticon love.

[ Mas bangun ini udah pagi, semalam sih sok sok an ngajak bergadang pasti kesiangan kan nih hihi. Selamat ketemu di kantor ya mas❤ ]

Sakit. Itu pertama kali yang aku rasakan. Ingin rasanya aku mengatakan sumpah serapah padanya. Tapi entah kenapa mulut ini enggan untuk berkata.

Aku hanya terdiam menatap tembok.
Apakah suami ku berkhianat? Haha pertanyaan apa yang aku tanyakan pada diri ini. Sungguh menggelitik. Suami ku sepertinya memang sudah mendua. Mungkin inilah takdir, sebelum aku pergi Tuhan telah menghadirkan pengganti ku untuknya.

Sisa usiaku sudah tak lama lagi, aku memang harus belajar hidup tanpanya. Dan membiarkan dia bahagia dengan pilihan nya. Aku tak perlu bersusah payah menjauhi dirinya. Biarkan saja dia pergi dengan sendirinya. Biar aku pun bisa melepaskan dengan tenang.

"Sayang" Suara berat keluar dari mulut mas anton

"Jam berapa sekarang? " Tanya nya

"Sudah jam setengah 6 mas, cepat bangun waktu sholat subuh sudah mau habis" Ucapku dan berlalu meninggalkannya.

Aku terdiam duduk dimeja makan. Melihat masakanku dengan tatapan kosong. Sebenarnya entah apa yang aku pikirkan, semua begitu menyakitkan.

Sebenarnya aku bukanlah gadis miskin. Hidup ku berkecukupan. Aku pun masih memiliki kedua orang tua yang lengkap.

Namun hubungan mereka tidaklah langgeng, mereka telah berpisah saat aku duduk dibangku smp. Sampai sekarang aku tak tau alasan apa yang menyebabkan mereka berpisah.

Dan masing-masing mereka telah menikah, rasanya malu jika aku harus ikut diantara salah satu mereka. Sehingga mereka memutuskan meninggalkan ku di panti asuhan.

Disana aku memang tak kekurangan apapun. Karena kedua orang tua ku rajin mengirimkan aku uang.

Hingga di bangku SMA aku mulai bekerja separuh waktu. Meski tak seberapa penghasilannya tapi aku tetap lakukan. Dengan tambahan aku berjualan online, dan alhamdulillah usaha jualan online ku dulu berkembang. Aku sudah memiliki toko di usia ke 20 tahun ku. Dan setelah mas anton meminang, toko ku serahkan kepada pihak panti untuk dikelola sebagai tambahan pemasukan mereka.

Lamunan ku terburai kan setelah kehadiran mas anton di samping ku. Dengan telaten ku siapkan  sarapannya. Dia telah rapi dengan pakaian kerjanya yang aku siapkan.

Lagi lagi mas anton terlalu sibuk dengan ponselnya sehingga membiarkan makanan yang telah ku sajikan.

Tak berselang lama mas anton bersuara
"Sayang aku sarapan dikantor saja ya" Ucapnya sambil meneguk susu yang telah ku buatkan hingga habis.

"Tapi... "

"Mas sekarang ada meeting, kamu baik baik ya di rumah"

Dia berdiri dan mengecup kening ku lalu pergi.



Komentar