Cerita AKU IKHLASH part 3
AKU IKHLASH
Karya : Rosma Mista
Bagian 3
Terdengar suara deruan mesin mobil yang meninggalkan perkarangan rumah.
Sebenarnya disisa usia ku, aku hanya ingin bermanja bersama mu menghabiskan waktu bersama mu. Tapi... Ya sudah lah.
Aku menghabiskan sarapan ditemani kesepian.
****
Hari beranjak siang, aku yang sedang bersantai di ruang tengah sambil menikmati bau tanah yang terkena hujan. Menatap keluar jendela, hujan yang mulai rintik rintik. Aku memang sangat menyukai bau tanah kering yang terkena air hujan, entahlah dari kecil aku sangat menyukainya.
Terlalu termenung hingga tak sadar ada mama datang.
"Zahraa... " Ucap wanita paru baya itu
Aku cuman menatapnya sekilas. Sebenarnya aku malas bertemu dengannya. Ia adalah wanita yang melahirkan ku, tapi sekarang ia malah menjadi mertua ku.
Aneh bukan? Haha aku pun ingin menertawakan diriku sendiri, dunia seakan sedang mempermainkan hidupku.
Aku tak mengerti, mama yang dulu aku sanjung dan ku hormati malah pergi dan menikahi seorang pria duda yang memiliki anak.
Dan ya, mas anton adalah anak tiri dari mama ku. Pertama kali aku di kenal kan sama keluarga mas anton, bukan main aku sangat terkejut bahwa mengetahui ibu sambung mas anton adalah ibu ku sendiri.
Wanita yang meninggalkan ku di sebuah panti.
Awalnya aku ingin membatalkan pernikahan ini, walau hati sudah terpatri pada pria yang ku cintai.
Namun mama meyakinkan ku bahwa mas anton tak ada ikatan darah dengan pak wahyu. Karena pernikahan pak wahyu dengan almarhum istrinya yang pertama tak di karuniai anak, sehingga mereka mengadopsi mas anton.
Mama menceritakan dengan jelas bahwa aku bisa menikah dengannya tanpa halangan apapun. Asalkan aku merahasiakan hubungan ku dengannya.
Tiap kali ku berkunjung ke rumah nya, terbesit rasa iri pada adik mas anton. Anak hasil dari perkawinan pak wahyu dan mama.
Mama begitu sangat menyayangi anak itu, ia sudah tumbuh remaja kelas 1smp. Yang dimana pada saat itu aku malah ditinggalkan karena perceraian.
Melihat kedekatan nya sangat mengiris hati. Wanita remaja itu sangatlah cantik mirip seperti mama yang cantik dan menawan.
Meski orang sering memujinya karena kebaikannya, tetap saja dimata ku ia adalah wanita yang paling tak bernurani.
Dulu ketika sakit aku butuh perhatian nya butuh dirinya. Dia tak ada di sisi ku. Bahkan menanyakan kabar saja dia jarang kecuali aku mengawali menelponnya.
Papa ku pun juga tak beda jauh dengan dirinya. Papa terlalu sibuk dengan keluarga barunya. Pernah sewaktu-waktu di usia ku 17 tahun, aku berkunjung ke rumah papa namun disana aku tak diperlakukan baik. Papa lebih mempercayai ucapan istri barunya dan anak-anak daripada aku darah dagingnya.
Istri baru papa selalu menyuruh ku ini dan itu, aku tak lebih sama seperti pembantu disana. Pernah aku mengadu pada papa, tapi papa seakan tak mempercayai ku.
Dan pada saat itulah aku merasa dunia memusuhi ku. Istri baru papa pun sering mengatakan bahwa aku kesana hanya ingin meminta hartanya, padahal jauh sebelum aku mengenal mereka dari kecil hidup ku sudah berlimpah harta.
Itu sebabnya sewaktu sma aku bekerja karena tak mau ada permasalahan apapun karena uang.
Kembali lagi pada masa kini. Mama masih menatapku dengan intens. Dan hal itu membuat ku risih.
"Ternyata kamu masih ara mama yang dulu.. " Ucapnya
Aku memutar mata malas.
"Kamu masih saja menyukai bau tanah yang terkena hujan" Lanjutnya
Aku pun tak menanggapinya. Jangankan berbicara melihat nya saja malas. Apalagi sewaktu acara arisan, mama menyuruh ku ini itu sedangkan ia asik bercanda gurau dengan anak dan suami nya.
Bagaimana tak kesal mama tertawa lepas didepan ku dengan keluarga kecilnya, sedangkan aku? Aku merasa tersisihkan.
"Zahra Putri Amanda! Apa kamu masih marah sama mama? Mengapa kau seakan menghindari mama terus? Mama rindu sama kamu ara. Dulu padahal kita sangat dekat. "
Hendak saja akan pergi namun mama berkata
"Ara anak mama tidak pernah meninggalkan mama nya ketika ngomong! "
Males berdebat dengan nya aku langsung pergi begitu saja meninggalkan dirinya.
"Araa..!! "
"Araaaa!!"
"Zahra! Mama-"
Brakk... !!!!!
Belum sempat mama meneruskan ucapnya aku langsung masuk ke kamar dan membanting pintu dengan keras.
Aku terduduk diujung ranjang. Merenungi hidup ku yang tak habis habisnya dengan derita.
'Tok.. Tok.. Tok..
"Araa buka pintunya nak"
"Zahra mama tau kamu mendengarkan mama, tolong buka pintunya sayang"
Mama terus saja mengetuk pintu kamar.
"Zahra buka pintunya!! Jangan jadi anak durhaka kamu membiarkan mama mu berdiri seperti ini !!"
Durhaka katanya? Ah mungkin wanita itu sedang ngelindur.
"Maaf nyonya saya tidak memiliki ibu seperti anda, lebih baik anda pergi dari rumah saya karena kehadiran anda sangat mengganggu ketenangan saya!" Sahut ku di dalam kamar.
"Zahra plis tolong jangan hukum mama seperti ini, mama tau mama dulu salah telah melantarkan mu di panti, sungguh mama menyesali perbuatan mama dulu. Tolong maafkan mama nak, sungguh mama sangat sakit hati melihat anak mama bertingkah seperti itu kepada mama, harus seperti apa agar kamu bisa memaafkan mama? Mama sangat rindu kamu, mama ingin memeluk mu ara"
Sungguh ucapannya sangat menusuk qolbu, aku memang kecewa padanya, aku juga membencinya tapi batin kami masih saling menyatu, tak kuasa aku menahan air mata ini.
'Yaa Allah...
Maafkan lah aku.'
Aku mengarahkan kepala keatas agar air mata yang bergenang tak berjatuhan. Sesak rasanya didalam dada ini.
"Nyonya lebih baik anda pulang ada anak yang menanti mu di rumah sana" Ucap ku
Tak berselang lama terdengar suara pintu yang tertutup. Aku lantas berjalan menuju jendela melihat kepergian mama.
Mama berlari kecil sambil menunduk, karena hujan. Aku menatap kepergian nya di balik gorden. Sempat mama melihat kearah sini sebentar didalam mobil. Namun ia tak akan bisa melihat keberadaan ku karena kaca di rumah ku semuanya jika dilihat diluar hanya bayangan gelap, berbeda dengan di dalam ternampak jelas jika melihat keluar.
Setelah kepergian mama, aku luluh ke lantai. Aku pun menangis sejadi-jadinya. Hujan diluar pun semakin deras seakan menggambarkan keadaan ku saat ini.
Langit pun ikut menangisi kepedihan hidupku. Setelah ditinggal kedua orang tua, terserang kanker, dan suami mengkhianati.
Kumplit sudah derita ku.
Entah Tuhan sedang menguji ku ataupun menghukum ku.

Komentar
Posting Komentar